though, I'm just me |
hejsan! it’s ayomi amindoni, and I love post-rain smell.. Linkeys: holga diary devArt gallery |
Gimme a break, a little escape I’m so tired of being me
Perekaman realitas yang dilakukan oleh fotografi, secara mekanis adalah perhentian dari realitas yang tidak dapat dilakukan secara eksistensial. Dalam aliran waktu, sebuah foto membekukan momen dalam frame-by-frame, melepaskannya dari kontinuitas realitas. Diskontinuitas ini pada akhirnya membentuk makna yang sama sekali berbeda dengan realitas sebenarnya. Dalam kehidupan, makna ditemukan dalam apa yang dihubungkan dan tidak bisa mengada tanpa perkembangan. Fakta dan informasi, tidak dalam dirinya menyusun makna.
Jika dilihat, citra Diane Arbus sebagai fotografer yang memotret orang-orang unik terbentuk dari diskontiunitas ini. Dibawah ini adalah contoh foto portrait karya Diane Arbus:

Pemotretan tersebut dilakukan oleh Diane Arbus pada tahun1962 di Taman Central Park dalam usahanya memotret keseharian orang-orang New York. Dari dua belas frame yang ia lakukan, satu adalah portrait dari beberapa anak dan wanita, sisanya adalah portrait dari seorang anak laki-laki dengan berbagai macam pose. Ia adalah salah satu dari sekian banyak anak-anak yang menghabiskan waktunya bermain di Central Park pada saat itu.
Secara fisik tidak ada yang aneh dengan subjek fotonya tersebut, ia seperti anak laki-laki kebanyakan dengan keceriaan dan kepolosannya. Pose yang dilakukan pun kebanyakan pose spontan yang dilakukan si anak laki-laki tersebuts sambil bermain granat mainan yang ia bawa. Arbus memotret subjeknya dalam jarak dekat sehingga memungkinkan Arbus untuk mengatur pose si subjek. Tetapi hal tersebut tidak dilakukannya, Arbus sengaja membiarkan subjek fotonya untuk berpose semaunya, ia hanya sekedar melihat dan merekam momen yang terjadi dan sesekali melakukan kontak dengan anak tersebut.Bisa dilihat bahwa terdapat keintiman antara subjek yang memotret dan subjek yang dipotret, Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa dari dua sebelas frame foto tersebut Arbus memilih frame pertama untuk diterbitkan?
Secara lebih dekat bisa dilihat frame pertama adalah sebagai berikut:
Young Boy With Grenade
Dalam foto yang oleh Arbus dinamai Young Boy With Grenade ini si anak kecil tampil dalam posisi yang aneh, berdiri kaku dengan membawa granat di tangan kanannya. Ekspresi wajahnya pun terlihat sama sekali berbeda dengan ekspresi wajah di frame yang lainnya. Mengapa Arbus memilih foto ini merupakan hak Arbus sebagai subjek pemotret. Ketika ia memotret, pilihan atas apa yang dipotret dan ia tampilkan merupakan konstruksi yang ditentukan oleh minat dan kepentingan si pemotret. Foto ini merupakan suatu argumen, suatu penjelasan, suatu alat bagi subjek yang memotret untuk menjelaskan dunia. Foto sebagai alat merupakan Ada yang tidak sadar tidak bisa menempatkan dirinya sebagai “other-than-an-other-being”.
“The photograph is vaguely constituted as an object, and the persons who figure there are certainly constituted as persons, but only because of their resemblance to human being, without any special intentionality. The drift between the shores of perception, between sign and image, without ever approaching either.” - Jean Paul Sartre
*a little snapshot from my minithesis :|
ehem.. yak… lapor! skripsi saya udah sampe d bab 4, bab yg paling eek dan anjrit sejagat raya persada nusantara… hem, sebelomnya sempet extra panik karena hardisk error ga mau detect, padahal data2 skripsi ada disana semuanya ( betapa bodohnya sampe ga bikin duplikasi datanya, ay!) sepertinya nanti2 juga keknya aku harus menyimpan data skripsi secara online :| panik deh panik sejadi2nya… dan kemudian dengan penuh perjuangan dan atas bantuan teman akhirnya hardisk bisa bersahabat juga.. walopun jadinya isi hardisk di rampok semua sama dia.. haha, enggak, music filesnya doang kok :| tapi gpp juga sih.. daripada hardisknya mati mulu.. ya sudah lanjuutttt….. bab 4… hem… lama lama kok malah jadi ngerasa ini skripsi tentang semiotika sih? sejauh 4 bab ini lebih banyak ngomongin masalah tanda, penanda dan petanda serta penandaan.. dan sedikit mengacu ke fenomena.. ahhh… I’m lost!!! ok ok.. i must back on the track mengacu ke wikipedia.org (source data yg sebenernya ga bisa dipertanggungjawabkan isinya) :
Fenomenologi adalah sebuah studi dalam bidang filsafat yang mempelajari manusia sebagai sebuah fenomena. Ilmu fenomonologi dalam filsafat biasa dihubungkan dengan ilmu hermeneutik, yaitu ilmu yang mempelajari arti daripada fenomena ini. (http://id.wikipedia.org/wiki/Fenomenologi)
Semiotik biasanya didefinisikan sebagai teori filsafat umum yang berkenaan dengan produksi tanda-tanda dan simbol-simbol sebagai bagian dari sistem kode yang digunakan untuk mengomunikasikan informasi. Semiotik meliputi tanda-tanda visual dan verbal serta tactile dan olfactory [semua tanda atau sinyal yang bisa diakses dan bisa diterima oleh seluruh indera yang kita miliki] ketika tanda-tanda tersebut membentuk sistem kode yang secara sistematis menyampaikan informasi atau pesan secara tertulis di setiap kegiatan dan perilaku manusia. (http://id.wikipedia.org/wiki/Semiotika)
nah, u must be back on the track ay! and clarify your thesis is about phenomenological analysis, not semiotics! so enuff talking about signs! WE ARE TALKING ABOUT PHENOMENA, HUMAN PHENOMENA!!!
currently listening metric - ending start currently reading rolland barthes - camera lucida (no wonder skripsinya jadi semiotikal ginih, bacaannya aja salah :| )

But then again, once one tells a secret, it is no longer secret. And those who listen to a secret may find themselves burdened with it for good. (Ayomi)
Dalam usahanya seringkali Ellie mengalami hambatan, mulai dari dana sampai pecahnya teamwork yang ia miliki. Tetapi yang mungkin paling berasa adalah ketika ia bersinggungan oleh Palmer Josh, seorang teolog yang tertarik dengan sains. Cukup aneh hubungan yang mereka miliki, meskipun keduanya menjalin asmara, tetapi dalam sisi pemikiran, keduanya sama sekali berlainan. Hal ini sering menimbulkan perdebatan apalagi ketika yang mereka berdiskusi tentang keyakinan. Sebagai seorang ilmuwan, Arroways lebih bersikap skeptis dan objektif terhadap segala sesuatu, mendasarkan tindakannya pada rasa ingin tahu tanpa tendensi apapun, termasuk keyakinannya akan Tuhan. Sedangkan Josh mendasarkan pemikirannya pada keyakinannya dan ajaran Tuhan dan beranggapan ilmu seringkali mencampuri masalah keyakinan.
Apa kita lebih bahagia sebagai umat manusia, apa dunia secara mendasar tempat yang lebih baik karena ilmu pengetahuan dan teknologi? Apakah dengan ilmu dan pengetahuan itu manusia bisa menemukan arti dari hidup? Ironisnya, yang paling diinginkan manusia, arti hidup - adalah satu hal yang tidak bisa diberikan oleh pengetahuan. Dengan apa manusia bisa menemukannya? Dalam setiap tindakannya, manusia membutuhkan keyakinan, dan hanya dalam keyakinannya kepada Tuham manusia dapat menemukan arti dari hidupnya.
Terkait dengan masalah ada tidaknya makhluk selain manusia dan makhluk hidup yang ada di bumi, mungkin bisa dijelaskan dengan Occam Razor. Ini adalah prinsip ilmiah dasar yang mengatakan: semu makhluk sejajar. Penjelasan yang paling sederhana cenderung menjadi penjelasan yang masuk akal. Seorang Josh Palmer mungkin akan beranggapan: Jika alien memang ada, Tuhan menciptakan alam semesta lalu memutuskan untuk memberikan bukti keberadaannya dengan menciptakan manusia dan makhluk lain untuk saling berhubungan. Sedangkan Ellie Arroways dengan scientific backgroundnya akan berpendapat Tuhan tidak ada sama sekali dan kita menciptakannya agar kita tidak merasa begitu kecil dan sendirian. Bagi seorang ilmuwan, keberadaan alien atau Tuhan sekalipun perlu dibuktikan dan pembuktian ini adalah dengan percobaan dan eksperimen yang didasarkan pada keinginan untuk berpetualang, bukan pada keyakinan. Meskipun pada akhirnya, ‘petualangan’ ini akan membahayakan hidupnya dan usahanya terancam gagal.
Tetapi bagaimanapun juga seorang ilmuwan yang cenderung tidak percaya kepada Tuhan deep down inside tetap memiliki keyakinan kepada Tuhan. Ini bisa diambil contoh ketika dalam alat transportasi menuju gugusan Vega dimana Arroways berusaha membuktikan keberadaan si alien, ia mengalami suatu pengalaman tertentu. Memang belum bisa dikatakan religious experience, I may say it spiritual experience. Ini adalah pengalaman ketika seseorang di ambang kematian, ketika nyawanya terancam constantly ia akan menyebut nama Tuhannya. Seperti ketika Ellie melewati semacam wormhole yang membawanya menuju suatu space hanya dalam hitungan detik berkali kali ia berseru “Oh, God!”. I guess it proves that keyakinan akan tuhan selalu ada di setiap benak manusia, no matter how they ignore, refuse, neglect their faith of God existence.
Film ini secara keseluruhan memotret integrasi agama dan sains. Sepanjang alur film kita dihadapkan pada perdebatan antara agama dan sains terkait dengan boleh tidaknya suatu penelusuran alam semesta ini dilakukan. Entah dalam pertimbangan etika, keselamatan atau keyakinan bahwa manusia adalah makhluk yang paling mulia sekalipun. Usaha yang dilakukan Arroways dianggap gagal karena ia tidak dapat membuktikan keberadaan alien. Rekaman audio dan video yang dibawanya tidak dapat menunjukkan pengalaman yang Ellie lalui. Secara objektif Ellie gagal dalam usahanya. Karena tidak ada bukti yang mampu membuktikannya. Tetapi bagi Ellie yang mengalami suatu pengalaman (yang dianggapnya adalah pertemuan alien dalam wujud ayahnya) sulit untuk menolak bahwa ia merasa yakin bahwa yang ia alami benar-benar nyata. Pengalaman ini yang memberinya keyakinan akan visi bahwa betapa kecil dan tidak berharganya semua. Visi bahwa kita memiliki sesuatu yang lebih besar dari kita sendiri, bahwa kita tidak sendiri. Inilah pengalaman spiritual Ellie. Disebut pengalamana spiritual karena hanya ialah yang merasakannya. Alat-alat yang sekiranya dapat membantunya dalam membuktikan usahanya ternyata tidak dapat memberikan apa yang diharapkan. Sebenarnya, jika kita masih merasa ingin tahu bisa saja kita melakukan percobaan yang sama dengan subjek yang berbeda. Dari sini kita bisa tahu apakah yang dialami Ellie hanya sekedar pengalaman spiritual atau pengalaman ilmiah. Inilah ciri dari ilmu pengetahuan, eksplorasi tiada henti.
Dalam setiap perbincangan antara agama dan sains dapat kita temukan bahwa dalam berhadapan dengan pengetahuan dan teknologi, antara agama dan sains memiliki kesamaan common ground yang dapat memutus hambatan yang memisahkan keduanya. Commond ground ini adalah pursuit of thruth. Agama dan sains sama-sama bertujuan untuk mencari kebenaran. Yang membedakannya adalah dasar keyakinan dan bagaimana usaha itu dilakukan.