Sabda Bos adalah Sabda Zarathustra. Sedikit tentang Semalam
Sedikit sempilan tulisan tentang konser Sigur Ros semalam. Tadinya tidak berencana untuk menulis deskripsi konser, tapi mengkomparasikan dengan konser terdahulu di Singapura. Tapi karena bos meminta untuk sumbang tulisan untuk koran, yasudah lah ya kita tulis. Sabda bos adalah sabda Zarathustra.
…………………………………
Dramatis. Satu kata yang secara singkat mampu mendeskripsikan aksi panggung band <i>post-rock</i> asal Islandia, Sigur Rós yang baru saja menggelar konser di Istora Senayan, Jumat (10/5) malam.
Permainan panggung band yang digawangi oleh Jón Þór Birgisson alias Jónsi pada gitar dan vokal, Georg Hólm pada bass, dan Orri Páll Dýrason pada drum selama hampir dua jam berhasil membuai mata dan telinga penonton dengan permainan musik serta perpaduan visual dan tata lampu dalam konser kali ini. <i>Additional players</i> yang memainkan mini orkestra semakin memperkaya 14 lagu yang dimainkan band yang baru saja ditinggal pemain keyboard/pianonya,Kjartan Sveinsson di awal tahun. Tidak hanya lagu bernuansa syahdu dan menyayat hati, namun juga menghentak dan bergairah. Selain menyanyikan tembang-tembang dari album lama, mereka membawakan empat lagu baru, yakni Yfirborð, Hrafntinna, Kveikur dan Brennisteinn.
Konser yang dimulai sekitar jam 21.00 WIB diawali dengan dipertontonkannya bayangan Jónsi memainkan gitar dengan busur cello dari balik layar besar yang menutupi panggung. Selain permainan gitar yang unik, Jónsi juga dikenal dengan ciri khasnya menyanyikan lagu-lagu berlirik Hopelandic atau Vonlenska dalam bahasa Islandia. Vonlenska merupakan bahasa tanpa arti dan grammar (glosolia) yang fokus hanya pada bunyinya yang diselaraskan dengan musik. Efek lighting dan visual di layar panggung tersebut semakin mendramatisasi atmosfer yang dihasilkan suara unik dari gitar Jónsi.
Tak lama, ketiganya langsung memainkan lagu pertama, yakni Yfirborð dari album teranyar mereka Kveikur yang akan dirilis 17 Juni mendatang. Pada dua lagu berikutnya, Ný Batteru dan Vaka ketiganya terus memainkan musik dibalik layar besar sehingga yang terlihat hanya siluet mereka memainkan alat musik masing-masing. Permainan panggung dibalik layar ini mengingatkan penggemar akan Heima, dokumenter aksi panggung outdoor yang mereka lakukan di kampung halamanya dan dirilis pada 2007 lalu.
Baru pada lagu ketiga, Hrafntinna, hentakan drum Orri sekaligus menandai dibukanya tirai besar yang sedari tadi menutupi panggung dan memperlihatkan ketiga legenda di jagad post-rock ini. Sontak hal ini menimbulkan sorak sorai dari penonton.
Ketiganya kemudian memainkan emosi penonton dengan alunan mengawang-awang lagu lagu dari album mereka terdahulu, seperti Sæglópur, Sven-G-Englar, Varúð dan tentu saja hits populer mereka, Hoppípolla Með Blóðnasir. Selama lagu ini dimainkan, penonton turut serta menyanyikan lagu tersebut bersama sama. Selesai lagu dimainkan, Jónsi tak lupa menyapa penonton. “Thank you Jakarta, so glad to be here,” serunya dari atas panggung.
Setelah <i>sing along</i> dengan lagu bernuansa ceria, emosi penonton kembali menggelanyut dengan dimainkannya Olsen Olsen. Nada sejuk dari lagi ini meninabobokan siapa saja yang mendengarnya, tapi tak sedikit juga penonton yang terlihat menikmati lagu hingga tidak tersadar menggoyangkan badan seiring irama lagu.
Setelah itu, Kveikur, Festival dan single dari album baru mereka Brennisteinn dimainkan. Di lagu ini terlihat totalitas permainan ketiga personel yang baru saja menjadi bintang tamu dalam serial kartun The Simpsons ini. Nada-nada agresif dari Brennisteinn menghasilkan noise yang bisa dibilang menjadi antidot lagu-lagu sendu dalam album mereka sebelumnya, Valtari yang dirilis 2012 lalu. Atmosfer elektronik juga terasa dengan tambahan penggunaaan <i>synthesizer</i>, dihajar dengan efek lampu bernuansa hijau mengingatkan akan Aurora Borealis yang menjadi ciri khas pemandangan di Islandia.
Setelah <i>encore</i>, Sigur Rós memainkan dua lagu terakhir yang menjadi andalan mereka, yakni Glosoli dan Popplagið. Di lagu terakhir yang berdurasi 16 menit ini ketiganya kembali menunjukkan totalitas mereka dalam bermusik. Diawali dengan alunan lembut dan ritme lagu memuncak pada akhir lagu dan ini menjadi klimaks konser. Tak sedikit penonton yang terlihat menangis haru ketika lagu ini selesai dimainkan. Bahkan meski Sigur Ros sudah berlalu dari panggung namun penonton masih mendamba untuk menikmati kembali permainan mereka dan berseru “We Want More!” secara berulang-ulang.
Salah satu penonton, Radite Erlangga (26) mengaku tidak bisa berkata apa apa mengomentari konser band yang digemarinya ini. Menurutnya, konser Sigur Ros menjadi konser terbaik yang pernah ia lihat. “Aksi panggung mereka 99,5 dari 100. Mulai penempatan personel inti sama <i>additional</i> pas banget. Pas siluet mereka, itu berasa kaya dewa dewi turun dari langit,” akunya.
Hal yang sama diungkapkan oleh Freyke Kosakoy. Ia mengaku masih terbuai dengan permainan panggung trio Islandia ini. Perpaduan visual dan <i>lighting arrangement</i> menurutnya menghasilkan nuansa <i>surreal, dreamy</i> dan psikedelik pada saat yang bersamaan. “Para additionalnya pun ga sembarangan. Plot-plot sama stage positioning mereka seperti sudah jadi bagian dari band lama banget,” cetusnya.
Selain itu, ia menilai aksi panggung Jonsi, Georg dan Orri menunjukankan performa maksimal dalam aksi panggungnya. “Mata dan telinga sama-sama puas tapi yang jelas dalam hati itu adeeeeeem,” tukasnya.
Adapun tour Sigur Ros ke Indonesia menjadi awal tour mereka ke benua Asia pada tahun ini. Ketiganya akan melanjutkan tour ke Jepang, Korea Selatan dan China dan dilanjutkan tour di Amerika Utara. Sebelumnya, ketiganya tampil sebagai salah satu pengisi panggung utama di festival musik Coachella yang digelar di Indio, California, Amerika Serikat pada 20 April lalu. (Aim)











