though, I'm just me






hejsan!
I'm ayomi amindoni
and I love post-rain smell..

Linkeys:
Follow daylightcoffee on Twitter
holga diary
deviantArt
facebook

Sabda Bos adalah Sabda Zarathustra. Sedikit tentang Semalam

Sedikit sempilan tulisan tentang konser Sigur Ros semalam. Tadinya tidak berencana untuk menulis deskripsi konser, tapi mengkomparasikan dengan konser terdahulu di Singapura. Tapi karena bos meminta untuk sumbang tulisan untuk koran, yasudah lah ya kita tulis. Sabda bos adalah sabda Zarathustra. 

…………………………………

Dramatis. Satu kata yang secara singkat mampu mendeskripsikan aksi panggung band <i>post-rock</i> asal Islandia, Sigur Rós yang baru saja menggelar konser di Istora Senayan, Jumat (10/5) malam.
Permainan panggung band yang digawangi oleh Jón Þór Birgisson alias Jónsi pada gitar dan vokal, Georg Hólm pada bass, dan Orri Páll Dýrason pada drum selama hampir dua jam berhasil membuai mata dan telinga penonton dengan permainan musik serta perpaduan visual dan tata lampu dalam konser kali ini. <i>Additional players</i> yang memainkan mini orkestra semakin memperkaya 14 lagu yang dimainkan band yang baru saja ditinggal pemain keyboard/pianonya,Kjartan Sveinsson di awal tahun. Tidak hanya lagu bernuansa syahdu dan menyayat hati, namun juga menghentak dan bergairah. Selain menyanyikan tembang-tembang dari album lama, mereka membawakan empat lagu baru, yakni Yfirborð, Hrafntinna, Kveikur dan Brennisteinn.
Konser yang dimulai sekitar jam 21.00 WIB  diawali dengan dipertontonkannya bayangan Jónsi memainkan gitar dengan busur cello dari balik layar besar yang menutupi panggung. Selain permainan gitar yang unik, Jónsi juga dikenal dengan ciri khasnya menyanyikan lagu-lagu berlirik Hopelandic atau Vonlenska dalam bahasa Islandia. Vonlenska merupakan bahasa tanpa arti dan grammar (glosolia) yang fokus hanya pada bunyinya yang diselaraskan dengan musik. Efek lighting dan visual di layar panggung tersebut semakin mendramatisasi atmosfer yang dihasilkan suara unik dari gitar Jónsi.
Tak lama, ketiganya langsung memainkan lagu pertama, yakni Yfirborð dari album teranyar mereka Kveikur yang akan dirilis 17 Juni mendatang. Pada dua  lagu berikutnya, Ný Batteru dan Vaka ketiganya terus memainkan musik dibalik layar besar sehingga yang terlihat hanya siluet mereka memainkan alat musik masing-masing. Permainan panggung dibalik layar ini mengingatkan penggemar akan Heima, dokumenter aksi panggung outdoor yang mereka lakukan di kampung halamanya dan dirilis pada 2007 lalu.
Baru pada lagu ketiga, Hrafntinna, hentakan drum Orri sekaligus menandai dibukanya tirai besar yang sedari tadi menutupi panggung dan memperlihatkan ketiga legenda di jagad post-rock ini. Sontak hal ini menimbulkan sorak sorai dari penonton.
Ketiganya kemudian memainkan emosi penonton dengan alunan mengawang-awang lagu lagu dari album mereka terdahulu, seperti Sæglópur,  Sven-G-Englar, Varúð dan tentu saja hits populer mereka, Hoppípolla Með Blóðnasir. Selama lagu ini dimainkan, penonton turut serta menyanyikan lagu tersebut bersama sama. Selesai lagu dimainkan, Jónsi tak lupa menyapa penonton. “Thank you Jakarta, so glad to be here,” serunya dari atas panggung.
Setelah <i>sing along</i> dengan lagu bernuansa ceria, emosi penonton kembali menggelanyut dengan dimainkannya Olsen Olsen. Nada sejuk dari lagi ini meninabobokan siapa saja yang mendengarnya, tapi tak sedikit juga penonton yang terlihat menikmati lagu hingga tidak tersadar menggoyangkan badan seiring irama lagu.
Setelah itu, Kveikur, Festival dan single dari album baru mereka Brennisteinn dimainkan. Di lagu ini terlihat totalitas permainan ketiga personel yang baru saja menjadi bintang tamu dalam serial kartun The Simpsons ini. Nada-nada agresif dari Brennisteinn menghasilkan noise yang bisa dibilang menjadi antidot lagu-lagu sendu dalam album mereka sebelumnya, Valtari yang dirilis 2012 lalu. Atmosfer elektronik juga terasa dengan tambahan penggunaaan <i>synthesizer</i>, dihajar dengan efek lampu bernuansa hijau mengingatkan akan Aurora Borealis yang menjadi ciri khas pemandangan di Islandia.
Setelah <i>encore</i>, Sigur Rós memainkan dua lagu terakhir yang menjadi andalan mereka, yakni Glosoli dan Popplagið. Di lagu terakhir yang berdurasi 16 menit ini ketiganya kembali menunjukkan totalitas mereka dalam bermusik. Diawali dengan alunan lembut dan ritme lagu memuncak pada akhir lagu dan ini menjadi klimaks konser. Tak sedikit penonton yang terlihat menangis haru ketika lagu ini selesai dimainkan. Bahkan meski Sigur Ros sudah berlalu dari panggung namun penonton masih mendamba untuk menikmati kembali permainan mereka dan berseru “We Want More!” secara berulang-ulang.
Salah satu penonton, Radite Erlangga (26) mengaku tidak bisa berkata apa apa mengomentari konser band yang digemarinya ini. Menurutnya,  konser Sigur Ros menjadi konser terbaik yang pernah ia lihat. “Aksi panggung mereka 99,5 dari 100. Mulai penempatan personel inti sama <i>additional</i> pas banget. Pas siluet mereka, itu berasa kaya dewa dewi turun dari langit,” akunya.
Hal yang sama diungkapkan oleh Freyke Kosakoy. Ia mengaku masih terbuai dengan permainan panggung trio Islandia ini. Perpaduan visual dan <i>lighting arrangement</i> menurutnya menghasilkan nuansa <i>surreal, dreamy</i> dan psikedelik pada saat yang bersamaan. “Para additionalnya pun ga sembarangan. Plot-plot sama stage positioning mereka seperti sudah jadi bagian dari band lama banget,” cetusnya.
Selain itu, ia menilai aksi panggung Jonsi, Georg dan Orri menunjukankan performa maksimal dalam aksi panggungnya. “Mata dan telinga sama-sama puas tapi yang jelas dalam hati itu adeeeeeem,” tukasnya.
Adapun tour Sigur Ros ke Indonesia menjadi awal tour mereka ke benua Asia pada tahun ini. Ketiganya akan melanjutkan tour ke Jepang, Korea Selatan dan China dan dilanjutkan tour di Amerika Utara. Sebelumnya, ketiganya tampil sebagai salah satu pengisi panggung utama di festival musik Coachella yang digelar di Indio, California, Amerika Serikat pada 20 April lalu. (Aim)

The next best thing, Daughter. View high resolution

The next best thing, Daughter.

The book that i dont want to finish.

Some people will be “the book that you dont want to finish to read”. You’ll keep it on the shelf and only read it once in time. Read it with slow speed, drown to the story. Enjoy the every minute you spend by reading the book. not much not less. In this context, it’s you.

Each photograph is only a fragment, its moral and emotional weight depends on where it is inserted
— Susan Sontag

Happy (belated) Birthday, Susan Sontag

Susan Sontag, penulis wanita asal Amerika (kalau masih hidup) genap berumur 80 tahun pada 16 Januari 2013. Sayangnya, tokoh literatur yang karyanya berkutat pada bahasan soal fotografi, budaya dan media ini meninggal pada Desember 2004. Meski demikian, sebagai penghormatan, dengan suka cita saya ucapkan: “Happy (belated) Birthday, Susan. Your spirit carries on!”

Susan Sontag, oleh Annie Leibovitz

Berbicara tentang Sontag, perkenalan saya dengan wanita ini melalui bukunya, On Photography. Pemaparannya yang komprehensif tentang ontologi fotografi, sedikit banyak mempengaruhi saya dalam bagaimana melihat fotografi, menilai karya fotografi dan atau melakukan proses memotret.

Kutipan dari buku ini yang paling mengena barangkali ini:

“Photography is not practiced by most people as an art. It’s mainly a social rite, a defense against anxiety, and a tool of power.”

Bagi saya, dan mungkin kebanyakan orang yang bergelut pada seni kontemporer tidak tidak lagi menganggap fotografi hanya sekedar menampilkan keindahan visual. Mungkin bisa begitu, kalau kita melihatnya dari sisi estetik (Walaupun akan muncul perdebatan juga untuk memutuskan suatu karya fotografi indah atau tidak). Tapi coba kita lewati hal itu sebentar. Dalam tataran ontologi, bagi saya, fotografi adalah self-revelation. Saya agak sulit untuk menerjemahkan dalam bahasa indonesia, “pembukaan diri” mungkin mendekati dengan padanan kata bahasa inggrisnya. Karya fotografi bukan saja hasil dari pertemuan pemotret dan sebuah peristiwa, aktivitas memotret itu sendiri sebenernya juga adalah proses pemotret untuk mencampuri;memunculkan atau mengabaikan realitas sesungguhnya; dan kemudian memunculkan realitas baru.

Sampai disini mungkin agak sedikit tersesat dengan “realitas baru” dan “pembukaan diri” melalui karya fotografi. Tapi mari coba kita pikirkan. Berapa banyak orang-orang yang menampilkan diri mereka apa adanya, dengan keistimewaan (baik positif dan negatif) yang mereka punyai. Sejauh pengamatan saya, manusia memiliki kecenderungan untuk melakukan “conformity” dengan lingkunan sosialnya. kenapa demikian? supaya bisa diterima oleh masyarakat. Well, ga semua orang bisa menerima keunikan manusia yang lain kan? Dalam konteks ini ini, etika antar subjek juga berlaku. Standar norma dalam masyarakat  menyebabkan manusia cenderung menerima kebaikan orang lain, tapi tidak dengan anomali yang dimiliki. Fotografi, bagi saya, adalah alat untuk memvisualisasikan ‘kecacatan’ yang saya miliki. dalam hal ini, “angst”



Einstein and His Professor

  • You might have read it already, but i still want to share it anyway in case you haven't.
  • ________________________________
  • Professor : You are a Christian, aren’t you, son ?
  • Student : Yes, sir.
  • Professor: So, you believe in GOD ?
  • Student : Absolutely, sir.
  • Professor : Is GOD good ?
  • Student : Sure.
  • Professor: Is GOD all powerful ?
  • Student : Yes.
  • Professor: My brother died of cancer even though he prayed to GOD to heal him. Most of us would attempt to help others who are ill. But GOD didn’t. How is this GOD good then? Hmm?
  • (Student was silent.)
  • Professor: You can’t answer, can you ? Let’s start again, young fella. Is GOD good?
  • Student : Yes.
  • Professor: Is satan good ?
  • Student : No.
  • Professor: Where does satan come from ?
  • Student : From … GOD …
  • Professor: That’s right. Tell me son, is there evil in this world?
  • Student : Yes.
  • Professor: Evil is everywhere, isn’t it ? And GOD did make everything. Correct?
  • Student : Yes.
  • Professor: So who created evil ?
  • (Student did not answer.)
  • Professor: Is there sickness? Immorality? Hatred? Ugliness? All these terrible things exist in the world, don’t they?
  • Student : Yes, sir.
  • Professor: So, who created them ?
  • (Student had no answer.)
  • Professor: Science says you have 5 Senses you use to identify and observe the world around you. Tell me, son, have you ever seen GOD?
  • Student : No, sir.
  • Professor: Tell us if you have ever heard your GOD?
  • Student : No , sir.
  • Professor: Have you ever felt your GOD, tasted your GOD, smelt your GOD? Have you ever had any sensory perception of GOD for that matter?
  • Student : No, sir. I’m afraid I haven’t.
  • Professor: Yet you still believe in Him?
  • Student : Yes.
  • Professor : According to Empirical, Testable, Demonstrable Protocol, Science says your GOD doesn’t exist. What do you say to that, son?
  • Student : Nothing. I only have my faith.
  • Professor: Yes, faith. And that is the problem Science has.
  • Student : Professor, is there such a thing as heat?
  • Professor: Yes.
  • Student : And is there such a thing as cold?
  • Professor: Yes.
  • Student : No, sir. There isn’t.
  • (The lecture theatre became very quiet with this turn of events.)
  • Student : Sir, you can have lots of heat, even more heat, superheat, mega heat, white heat, a little heat or no heat. But we don’t have anything called cold. We can hit 458 degrees below zero which is no heat, but we can’t go any further after that. There is no such thing as cold. Cold is only a word we use to describe the absence of heat. We cannot measure cold. Heat is energy. Cold is not the opposite of heat, sir, just the absence of it.
  • (There was pin-drop silence in the lecture theater.)
  • Student : What about darkness, Professor? Is there such a thing as darkness?
  • Professor: Yes. What is night if there isn’t darkness?
  • Student : You’re wrong again, sir. Darkness is the absence of something. You can have low light, normal light, bright light, flashing light. But if you have no light constantly, you have nothing and its called darkness, isn’t it? In reality, darkness isn’t. If it is, were you would be able to make darkness darker, wouldn’t you?
  • Professor: So what is the point you are making, young man ?
  • Student : Sir, my point is your philosophical premise is flawed.
  • Professor: Flawed ? Can you explain how?
  • Student : Sir, you are working on the premise of duality. You argue there is life and then there is death, a good GOD and a bad GOD. You are viewing the concept of GOD as something finite, something we can measure. Sir, Science can’t even explain a thought. It uses electricity and magnetism, but has never seen, much less fully understood either one. To view death as the opposite of life is to be ignorant of the fact that death cannot exist as a substantive thing.
  • Death is not the opposite of life: just the absence of it. Now tell me, Professor, do you teach your students that they evolved from a monkey?
  • Professor: If you are referring to the natural evolutionary process, yes, of course, I do.
  • Student : Have you ever observed evolution with your own eyes, sir?
  • (The Professor shook his head with a smile, beginning to realize where the argument was going.)
  • Student : Since no one has ever observed the process of evolution at work and cannot even prove that this process is an on-going endeavor. Are you not teaching your opinion, sir? Are you not a scientist but a preacher?
  • (The class was in uproar.)
  • Student : Is there anyone in the class who has ever seen the Professor’s brain?
  • (The class broke out into laughter. )
  • Student : Is there anyone here who has ever heard the Professor’s brain, felt it, touched or smelt it? No one appears to have done so. So, according to the established Rules of Empirical, Stable, Demonstrable Protocol, Science says that you have no brain, sir. With all due respect, sir, how do we then trust your lectures, sir?
  • (The room was silent. The Professor stared at the student, his face unfathomable.)
  • Professor: I guess you’ll have to take them on faith, son.
  • Student : That is it sir … Exactly ! The link between man & GOD is FAITH. That is all that keeps things alive and moving.
  • P.S.
  • I believe you have enjoyed the conversation. And if so, you’ll probably want your friends / colleagues to enjoy the same, won’t you?
  • Forward this to increase their knowledge … or FAITH.
  • By the way, that student was EINSTEIN.

buddha yang gemerlap itu menyilaukan

buddhisme, salah satu spiritualisme yang menarik perhatian saya. kenapa? karena ajaran siddharta gautama ini lebih mengajarkan humanisme-etis dibanding ketuhanan. Tapi tetap, disertai keengganan besar untuk ‘terkait’ di ajaran tersebut. Selama ini ketetertarikan saya pada buddha hanya sekedar pada apa yang tertulis di buku, bahwa buddha mengajarkan kerendahan hati dan welas asih. sampai disitu. dan kondisi kultur buddha di Indonesia dengan candi-candi dan stupa batu kali sederhana tanpa hiasan menjustifikasi bahwa memang buddha adalah ajaran yang “down to earth”

Keingintahuan lebih dalam tentang buddha sedikit tersentil setelah membaca buku seri ketiga Bilangan Fu milik Ayu Utami, Lalita, yang sebagian besar tentang buddha. Buddhisme di Indonesia, pernah mencapai kejayaannya pada masa kerajaan Sriwijaya di abad 7, bahkan menjadi pusat ajaran buddha. Borobudur, candi yang sempat tertimbun abu gunung merapi, adalah candi buddha terbesar di dunia yang dibangun pada masa dinasti Syailendra di abad 9.

Sejarah buddhisme di nusantara hebat sekali bukan? Konteks sejarah itulah yang kemudian memicu saya untuk merencanakan perjalanan napak tilas buddha. Mulai dari Borobudur, serpihan-serpihan peninggalannya di bekas wilayah Sriwijaya. Dan (jika memungkinkan) ke negara-negara dengan demografi penduduk beragama buddha seperti Thailand, Myanmar, China untuk melihat bagaimana kultur buddha di negara tersebut. Dan tentu saja, pungkasannya adalah India-Nepal-Tibet.

Saya tahu rencana ini seperti mimpi di siang bolong, tapi manusia berhak bermimpi bukan? Tadinya saya merencanakan awal tahun ini untuk mengambil cuti dan menyempatkan membaca Borobudur. Iya, membaca. Yang terukir di relief Borobudur itulah yang menjadi buku untuk dibaca. Selama ini, kalau melancong ke Borobudur hanya untuk sekedar piknik atau ketika perayaan waisak tanpa menyelami apa yg terukir di reliefnya. Padahal itu esensi dari Buddhisme sesungguhnya. Paling tidak, dari sudut pandang manusia Indonesia pada abad ke-9.

Tapi keberuntungan kecil datang ketika saya memperoleh kesempatan untuk mengunjungi Thailand, akhir tahun lalu.  Dan terkaget-kaget ketika menemui buddhisme versi negara tersebut. Buddha, menjadi agama utama disana. Di setiap penjuru Bangkok bisa ditemui kuil-kuil Buddha, utamanya kuil buddha tidur atau Wat Pho dan Wat Arun. Di setiap sudut jalan bisa ditemui pemujaan untuk Buddha dan sesajennya. (dari sini saya mulai menyadari bahwa Buddha di Thailand berasimilasi dengan Hindu).

Yang mengherankan, kuil Buddha yang ditemui di Thailand sangat mewah. Stupa, meski dengan pola yang sama seperti di Borobudur, tapi di sini bercorak warna warni berhias kulit kerang. Demikian halnya dengan patung buddha-nya. Kebanyakan dari bahan (serupa) emas dan dihiasi bermacam-macam pernak pernik. Saya mulai beranggapan bahwa di Thailand Buddha menjadi semacam dewa yang dipuja, menjadi berhala. Seperti agama-agama lain memperlakukan tuhannya. Mungkin buddha di nirwana tidak berekspektasi bahwa ajarannya akan diselewengkan sedimikian rupa.

Ketika berada di kuil kuil tersebut, merasa damai, tentu saja. Tapi nyaman tidak. Buddha yang terlalu gemerlap benar-benar menyilaukan, secara visual, dan spiritual. Tiba-tiba saja saya merasakan ke-eneg-an seperti yang saya rasakan terhadap agama-agama lain.

Ah mungkin saya saja yang terbiasa dengan buddha “humble” dan tanpa kepala seperti yang ditemui di Borobudur. Lebih penting dari itu, buddha tidak butuh kuil atau candi atau bahkan patung untuk pemujaan. “The mind is the temple, The philosophy is kindness,” ujar Dalai Lama sekali waktu.

Sepuluh Tahun Pencarian, Tuntas.

3 jam menjelang pungkasan 2012. Sebenarnya tidak mau latah seperti orang-orang yang mereview apa yang sudah dilakukan dan apa yang didapat selama 1 tahun kebelakang. Tapi bagi saya, tahun ini adalah tahun bersejarah dan beralasan untuk saya abadikan di tulisan ini.

Tentang pencarian. Kehidupan manusia pada dasarnya adalah proses pencarian. Saya sendiri, menganggap proses pencarian ini menjadi permainan yang menyenangkan. Apapun itu, mencari jatidiri, mencari tuhan (kalau ada), mencari impian, mencari tujuan hidup, mencari jawaban pertanyaan yang cheesy pun bisa saya anggap menyenangkann . orang bisa saja menggunakan persepsinya masing-masing.

Satu kejutan kecil datang ketika di akhir Desember ini seorang wartawan senior memberi saya buku “Troubled Sleep” karya Jean Paul Sartre. Buku ini adalah buku seri terakhir trilogi novel Road To Freedom si eksistensialis dan menjadi objek pencarian saya selama 10 tahun terakhir.

Ya, saya mulai membaca seri pertama Road To Freedom, yaitu The Age of Reason (1947) ketika saya masih di masa SMA. Seketika itu juga langsung jatuh cinta dengan cerita Mathieu dan Marcelel buku ini, eksistensialisme, dan Sartre. Karena buku ini mungkin yang menjadi motivasi saya mempelajari filsafat, khususnya eksistensialisme. Buku ini juga mungkin yang menjadi alasan cinta buta saya pada pria buruk rupa bernama Jean Paul Sartre. 

Seri kedua, The Reprieve (1947), saya baca ketika sudah berada di masa kuliah  dan menjadi semakin getol dengan pemikiran Sartre dan mulai mengkoleksi semua bukunya. Bahkan metafisika dan fenomenologinya di Being and Nothingness (1956) menjadi inspirasi saya dalam membuat skripsi. 

Tapi sayang, kegandrungan saya terhadap cerita berlatar belakang Perang Dunia II di Prancis berhenti di tengah jalan lantaran penerbit yang mencetak dua buku tersebut, yaitu Jendela, tidak menerbitkan buku seri terakhirnya. Padahal dalam pengantarnya si penerbit menjanjikan Troubled sleep akan segera diterbitkan. Namun ternyata tidak. Entah karena penerbitnya bangkrut atau karena memang sudah tidak berminat lagi menerjemahkan dan menerbitkan buku Sartre tersebut.

Sampai disini, pencarian saya dimulai. Mungkin penasaran menjadi pendorong utama saya mencari Troubled Sleep. Pencarian buku ini menjadi permainan utama ketika mengunjungi toko-toko buku atau pameran buku. Sempat putus harapan karena dari sekian banyak toko buku yang dikunjungi, tidak ada satu pun ditemukan buku ini. Saya beranggapan bahwa memang penerbit Indonesia kurang melek intelek. Buku sebagus ini tidak ada yang berminat untuk menerjemahkan-menerbitkan? Dan saya berkeputusan kalau, okay tidak ada versi bahasa Indonesianya, pasti ada versi bahasa Inggrisnya bukan?

Mulailah penjelajahan ke toko-toko buku impor. Bahkan sampai toko buku impor secondhand di Semarang. Tapi nihil. Saya pada titik benar-benar putus asa tidak bisa menyelesaikan cerita Road to Freedom. itu terjadi pada masa-masa terakhir saya kuliah. Lambat laun pun saya lupa dengan ceritanya. sayang, kemampuan otak saya memang mudah lupa.

Tapi demikian, permainan pencarian Troubled Sleep menjadi permainan utama saya ketika “bermain” di toko buku. ya, dalam permainan ini pencapaian terbesar dalam hidup adalah ketika saya menemukan Troubled Sleep sendiri. Dengan perhitungan saya membaca seri pertamanya ketika kelas 3 SMA, kira-kira sudah 10 tahun melakukan pencarian ini.

Potensi menemukan Troubled Sleep terbuka lebar ketika saya hijrah ke Jakarta. Di kota ini, dengan akses buku yang lebih banyak seharusnya memperlebar kesempatan. Apalagi saya bekerja sebagai  wartawan dan membuka link lebar-lebar. Tapi tidak. Saya lebih suka menggunakan cara konvensional. Mencari sendiri. Bahkan ketika ditugasi ke luar negeri, toko buku menjadi destinasi utama. tapi begitulah, mungkin saya tidak berjodoh dengan akhir cerita buku ini.

Kejutan datang ketika Mba Oppie, wartawan dari majalah Neraca tiba-tiba men-tweet gambar buku ini dan menawarkan ke saya. Sebelumnya, saya sudah menceritakan pengalaman “pencarian Troubled Sleep” saya ke beliau. Buku tersebut ia dapat ketika meminta tolong temannya untuk mencarikan buku tersebut, di Inggris.

Dengan ringan tangan dia memberikannya buku tersebut sebagai hadiah akhir tahun. Ah senangnya. Dengan buku ini ditangan, pencarian 10 tahun saya tuntas. Seharusnya saya bahagia, tapi ternyata tidak. 10 tahun pencarian membuat saya beranggapan bahwa yang terpenting bukan mendapatkan buku tersebut, tapi bagaimana mendapatkan buku tersebut. Dengan konsep pencapaian utama adalah menemukan sendiri buku tersebut, membuat saya merasa kalah dalam permainan ini. Itu pertama. Kedua, saya menjadi kehilangan “permainan utama” ketika melancong di toko buku. Ironis.

Ultralite Powered by Tumblr | Designed by:Doinwork